Berita

Masuki Tahun Politik 2019, PSHT Demak Siap Perangi Hoax

Masuki Tahun Politik 2019, PSHT Demak Siap Perangi Hoax

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Masuki Tahun Politik 2019, PSHT Demak Siap Perangi Hoax.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Memasuki tahun politik, khususnya Pilpres dan Pileg tahun 2019, pengurus pusat Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), mengajak seluruh pendekarnya agar ikut serta menjaga kerukunan dan keteriban masyarakat, seiring marakanya berbagai informasi hoax di tanah air.

Ketua Umum PP PSHT, Muhammad Taufik mengatakan untuk menjaga kerukunan dan ketertiban masyarakat, pihaknya mengaku sudah menjadi komitmen PSHT.

Organisasi PSHT dikembangkan untuk menjadi pijakan antar warga yang dibangun dengan rasa persaudaraan. Meski, seringkali rasa persaudaraan itu terpengaruh oleh adanya hoax di media sosial, sehingga dapat memecah rasa persaudaraan sesama warga anggota PSHT, maupun dengan masyarakat.

“Hoax itu ada produsennya. Kita harus cermat setiap menerima informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai kita menerima informasi tanpa menggunakan rasa dan nalar kita, itu akan menentukan seberapa jauh rasa persaudaraan kita,” kata Taufik seusai acara pelantikan pengurus PSHT Cabang Demak, di Pendopo Demak, Minggu (29/7/2018).

Di sisi lain, dalam menyimak informasi apapun, warga PSHT harus menggunakan kesadaran penuh. Dimana, organisasi PSHT itu, ditentukan oleh persaudaraan, karena itu, lanjutnya, janganlah untuk bisa mudah terpengaruh oleh informasi hoaks.

Selain itu, Taufik juga mengutarakan, warga PHST telah diberi amanah untuk membawa ajaran budi luhur, karena itu hoaks jelas tidak sesuai dengan ajaran PSHT.

“Warga PSHT harus ikut memancarkan cita – cita luhur kita. Ikut memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia,” bebernya, melalui siaran tertulis, kepada Tribun Jateng.

Taufik juga menambahkan, warga PSHT harus ikut serta dan aktif dalam pembangunan nasional serta menjaga stabilitas nasional melalui aksi bela negara melawan hoaks dengan bekerjasama dengan pemerintah, TNI, dan Polri.

“Kita harus terus menumbuhkan semangat bela negara. Jangan sampai bangsa Indonesia pecah belah karena hoaks. Dan jangan sampai PSHT terpecah belah juga karena hoaks,” ujarnya.

Sementara itu, disampaikan oleh Sekretaris Dewan Pertimbangan PSHT Cabang Demak, Nanang Setyono, disamping menekuni ilmu pencak silat keberadaan PSHT, juga ingin berkontribusi membantu perwujudan pembangunan nasional serta ingin mengabdikan diri bela negara terutama melawan hoak.

“Kami ingin membantu mewujudkan pembangunan di Kabupaten Demak. Kami siap bekerjasama dengan Pemkab Demak, Kodim maupum Polres Demak, dengan berbagai kegiatan yang membangun di Kabupaten Demak ini,” jelasnya.

Sejak dirintis pada tahun 2002 lalu, kata Nanang, PSHT Demak kini telah memiliki 1360 anggota yang terdiri dari pelatih dan siswa.

“Ada 23 tempat latihan bagi ribuan anggota PSHT Demak, yang tersebar di 14 kecamatan. Dan rencananya PSHT Demak juga akan membuat sasana latihan sendiri,” ujarnya.

Adapun untuk kepengurusan PSHT Cabang Demak, masa bhakti 2018-2023, Ketua cabang PSHT Demak sendiri adalah Abdul Hamid, dengan Ketua Dewan Pertimbangan PSHT Cabang Demak, Bambang Prawoto.

pertandingan

PSHT Juara Umum IPSI Cup Pacitan 2018

Pacitanku.com, PACITAN – Perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berhasil menjadi juara umum dalam kejuaraan pencak silat Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Cup Pacitan 2018 yang digelar pada Sabtu (17/3/2018) hingga Minggu (18/3/2018) kemarin di Gelanggang Olahraga (GOR) Pacitan Jalan WR Supratman Kelurahan Sidoharjo Kecamatan Pacitan.

PSHT menjadi juara umum setelah berhasil mengumpulkan 10 medali emas, empat perak dan 3 perunggu. Sementara juara umum II diraih Persinas ASAD dengan raihan 3 emas, 3 perak dan 5 perunggu. Di kategori juara umum III adalah Tapak Suci Putera Muhammadiyah dengan 3 emas, 2 perak dan 5 perunggu.

Ketua IPSI Pacitan Syamsudin dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kejuaraan IPSI Cup yang pertama kali dilaksanakan di Pacitan.

“Kegiatan ini untuk menjalin persatuan dan kesatuan serta mengolah ketrampilan dari masing masing perguruan untuk meraih prestasi, dan merupakan satu tiket untuk menuju Porprov 2019,”katanya.

Dia mengungkapkan bahwa pencak silat Pacitan didorong untuk menghasilkan satu prestasi di bidang pencak silat.

“IPSI Cup ini kedepan akan ditindak lanjuti dengan Dandim Cup dan Kapolres Cup untuk mencari bibit atlit Pencak silat di Kabupaten Pacitan, dan saya harapkan perguruan yang tergabung dalam IPSI siap menorehkan prestasi baik di tingkat Provinsi dan nasional,”jelasnya.

Sementara Komandan Kodim 0801/Pacitan yang juga Pembina IPSI Pacitan Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang berharap semua mempunyai kebanggaan sebagai pesilat yang tergabung dalam IPSI Pacitan.

“Kendalikan emosi dan ego dalam pertandingan, lawan kita adalah partner dalam bertarung jangan di anggap sebagai musuh, sportivitas adalah pencapaian tertinggi dalam olahraga dan mari kita tunjukkan permainan yang terbaik demi prestasi yang gemilang untuk Pacitan,”katanya.

Adapun peserta Kejuaraan Pencak Silat IPSI Cup Tahun 2018 ini diikuti 126  orang peserta dari 11 perguruan silat se-Pacitan.

Pewarta: Wahyu
Penyunting: Dwi Purnawan


Sejarah

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE (PSHT)

Ki Ageng Soero Dwiryo

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) atau yang dikenal dengan SH Terate adalah suatu persaudaraan “perguruan” silat yang bertujuan mendidik dan membentuk manusia berbudi luhur,tahu benar dan salah, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengajarkan kesetiaan pada hati sanubari sendiri serta mengutamakan persaudaraan antar warga (anggota) dan berbentuk sebuah organisasi yang merupakan rumpun/aliran Persaudaraan Setia Hati (PSH). SH Terate termasuk salah satu 10 perguruan silat yang turut mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada konggres pencak silat tanggal 28 Mei 1948 di Surakarta. Cabang SH Terate tersebar di 200 kota/kabupaten di Indonesia dan komisariat luar negeri di Malaysia, Belanda, Russia (Moskow), Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia dan Perancis, dengan keanggotaan (disebut Warga) mencapai 8 juta orang.

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) – didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo di indonesia tepatnya Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo,Madiun pada tahun 1922.

Pada tahun 1903 di Kampoeng Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ageng Soero Dwiryo meletakkan dasar bagi gaya Pencak Silat Setia Hati. Sebelum disebut Setia Hati, latihan Fisik/Gerakan Pencak Silat Setia Hati disebut “Djojo Gendilo Tjipto Muljo” dan untuk ajaran kerokhanian dan spiritual Setia Hati disebut “Sedulur Tunggal Ketjer” disingkat STK. oleh Warga Tk.II pada latihan tingkat Putih PSHT cabang Surabaya di IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1994 – 1995, antara lain Mas Ir. FX.Sentot Sutikno, Mas. Dr. Ir. H.Aliadi,MM dan Mas Panggul.

Pada tahun 1917 Ki Ageng Soerodwirjo pindah ke Madiun dan membangun dan mendirikan Persaudaraan “perguruan” Silat bernama Persaudaraan Setia Hati di desa Winongo Madiun. Pada saat itu Persaudaraan Setia Hati bukanlah/belum menjadi organisasi, Setia Hati adalah persaudaraan (kadang) saja di antara siswa, karena pada saat itu organisasi Pencak Silat tidak diizinkan oleh kolonialisme Belanda. “Setia Hati” berarti Setia pada Hati (diri) sendiri”.

Soerodiwirjo lahir dari keluarga bangsawan di daerah Gresik (versi lain di Madiun) Jawa Timur, Indonesia, pada kuartal terakhir abad ke-19. Dia dijuluki sebagai “Ngabei” sebuah gelar bangsawan eksklusif yang diberikan oleh Sultan dan hanya untuk mereka yang telah membuktikan dirinya layak secara rohani. Dia tinggal dan bekerja di berbagai lokasi di pulau Jawa dan Sumatera dan belajar gaya Pencak Silat dari berbagai aliran. Di Sumatera juga belajar kerokhanian (kebatinan) pada seorang guru spiritual. Kombinasi ajaran spiritual (kebatinan) dan gaya pencak silat yang terbaik dari berbagai aliran ini yang menjadi dasar untuk silat Setia Hati. Ki Ageng Hadji Soerodiwirjo meninggal pada 10 November 1944 di Madiun.

Pada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo (pahlawan perintis kemerdekaan 1883-1952), salah satu kadang Setia Hati, meminta izin kepada Ki Ageng Soerodiwirjo untuk mendirikan latihan Setia Hati bagi generasi muda dan diizinkan oleh Ki Ageng Soerodiwirjo, tetapi harus dalam nama yang berbeda. Maka Ki Hardjo Oetomo mendirikan Setia Hati “Pemuda Sport Club” (SH PSC) yang kemudian menjadi Persaudaraan Setia Hati “Pemuda Sport Club” yang berupa sebuah Organisasi. Organisasi ini kemudian disebut Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT pada tahun 1948 dalam kongres pertama di Madiun. Setelah Perang Dunia II, PSHT terus menyebar ke seluruh Indonesia. Seorang tokoh penting di balik semakin populernya PSHT ini adalah Mas Irsjad yang merupakan siswa pertama Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Mas Irsyad ini juga menciptakan 90 Senam Dasar (Basic Exercise), Jurus Belati (Jurus dengan pisau), dan Jurus Toya (Jurus dengan panjang tongkat) yang membedakan dengan Setia Hati di Winongo. Salah satu siswa Mas Irsjad adalah Mas Imam Koesoepangat (1939-1987) pemimpin spiritual dari PSHT yang turut berjasa membesarkan PSHT. Penggantinya, Mas Tarmadji Boedi Harsono(1987-2014), Saat ini dewan pusat organisasi PSHT dipimpin oleh Kolonel Inf (Purn.) Mas Richard Simorangkir sampai pada Parapatan Luhur digelar pada tahun 2014. (Sumber)

Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)

Riwayat Singkat Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo (Eyang Suro)[sumber]

Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo nama kecilnya adalah Muhamad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo (mantri cacar di ngimbang kab: jombang Ki ngabei Soeromihardjo adalah saudara sepupu RAA Soeronegoro (bupati Kediri pada saat itu). Ki Ageng soerodiwirdjo mempunyai garis keterunan batoro katong di Ponorogo, beliau kawin dengan ibu sarijati umur 29 tahun di surabaya dari perkawinan itu dianugrahi 3 anak laki-2 dan 2 anak perempuan namun semuanya meninggal dunia sewaktu masih kecil.

Pada usia 14 tahun (th 1890) beliau lulus SR sekarang SD kemudian diambil putra oleh pamanya (wedono di wonokromo) dan tahun 1891 yaitu tepat berusia 15 tahun ikut seorang kontrolir belanda di pekerjakan sebagai juru tulis tetapi harus magang dahulu (sekarang capeg). Pada usia yang relatif masih muda Ki Ageng Soerodiwirdjo mengaji di pondok pesantren tibu ireng jombang, dan disini lah beliau belajar pencak silat pada tahun 1892 pindah ke bandung tepatnya di parahyangan di daerah ini beliau berksempatan menambah kepandaian ilmu pencak silat. Ki Ageng Soerodiwirdjo adalah seorang yang berbakat, berkemauan keras dan dapat berfikir cepat serta dapat menghimpun bermacam-macam gerak langkah permainan.

Tahun 1893 beliau pindah ke jakarta, di kota betawi ini hanya satu tahun tetapi dapat mempergunakan waktunya untuk menambah pengetahuan dalam belajar pencak silat.

Pada tahun 1894 Ki Ageng Soerodiwirdjo pindah ke bengkulu karena pada saat itu orang yang di ikutinya (orang belanda) pindah kesana.di bengkulu permainanya sama dengan di jawa barat, enam bulan kemudian pindah ke padang. Di kedua daerah ini Ki Ageng Soerodiwirdjo juga memperdalam dan menambah pengetahuannya tentang dunia pencak silat.

Dari daerah tersebut salah satu gurunya adalah Datuk Rajo Batuah. Beliau disamping mengajarkan ilmu kerohanian. Dimana ilmu kerohanian ini diberikan kepada murid-murid beliau di tingkat II.

Pada tahun 1898 beliau melanjutkan perantuanya ke banda aceh, di tempat ini Ki Ageng Soerodiwirdjo berguru kepada beberapa guru pencak silat.

Pada tahun 1902 Ki Ageng Soerodiwirdjo kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai anggota polisi dengan pangkat mayor polisi. Tahun 1903 di daerah tambak Gringsing untuk pertama kali Ki Ageng Soerodiwirdjo mendirikan perkumpulan mula-mula di beri nama ‘SEDULUR TUNGGAL KECER” dan permainan pencak silatnya bernama “ JOYO GENDELO” .

Pada tahun 1917 nama tersebut berubah, dan berdirilah pencak silat PERSAUDARAAN SETIA HATI, (SH) yang berpusat di madiun tujuan perkumpulan tersebut diantaranya, agar para anggota (warga) nya mempunyai rasa Persaudaraan dan kepribadian Nasional yang kuat karena pada saat itu Indonesia sedang di jajah oleh bangsa belanda. Ki Ageng Soerodiwirdjo wafat pada hari jum`at legi tanggal 10 nopember 1944 dan di makamkan di makam Winongo madiun dalam usia enam puluh delapan tahun (68).

Sejarah

SEJARAH SINGKAT PSHT 1922

        Persaudaraan Setia Hati Terate

Persaudaraan Setia Hati Terate
Pada tahun 1903 di Kampoeng Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ageng Soero Dwiryo meletakkan dasar bagi gaya Pencak Silat Setia Hati. Sebelum disebut Setia Hati, latihan Fisik/Gerakan Pencak Silat Setia Hati disebut “Djojo Gendilo Tjipto Muljo” dan untuk ajaran kerokhanian dan spiritual Setia Hati disebut “Sedulur Tunggal Ketjer” disingkat STK.[3] oleh Warga Tk.II pada latihan tingkat Putih PSHT cabang Surabaya di IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1994 – 1995, antara lain Mas Ir. FX.Sentot Sutikno, Mas. Dr. Ir. H.Aliadi,MM dan Mas Panggul</ref> Pada tahun 1917 Ki Ageng Soerodwirjo pindah ke Madiun dan membangun dan mendirikan Persaudaraan “perguruan” Silat bernama Persaudaraan Setia Hati di desa Winongo Madiun. Pada saat itu Persaudaraan Setia Hati bukanlah/belum menjadi organisasi, Setia Hati adalah persaudaraan (kadang) saja di antara siswa, karena pada saat itu organisasi Pencak Silat tidak diizinkan oleh kolonialisme Belanda. “Setia Hati” berarti Setia pada Hati (diri) sendiri”. Soerodiwirjo lahir keluarga bangsawan di daerah Gresik (versi lain di Madiun) Jawa Timur, Indonesia, pada kuartal terakhir abad ke-19. Dia dijuluki sebagai “Ngabei” sebuah gelar bangsawan eksklusif yang diberikan oleh Sultan dan hanya untuk mereka yang telah membuktikan dirinya layak secara rohani. Dia tinggal dan bekerja di berbagai lokasi di pulau Jawa dan Sumatera dan belajar gaya Pencak Silat dari berbagai aliran. Di Sumatera juga belajar kerokhanian (kebatinan) pada seorang guru spiritual. Kombinasi ajaran spiritual (kebatinan) dan gaya pencak silat yang terbaik dari berbagai aliran ini yang menjadi dasar untuk silat Setia Hati. Ki Ageng Hadji Soerodiwirjo meninggal pada 10 November 1944 di MadiunPada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo (pahlawan perintis kemerdekaan 1883-1952), salah satu kadang Setia Hati, meminta izin kepada Ki Ageng Soerodiwirjo untuk mendirikan latihan Setia Hati bagi generasi muda dan diizinkan oleh Ki Ageng Soerodiwirjo, tetapi harus dalam nama yang berbeda. Maka Ki Hardjo Oetomo mendirikan Setia Hati “Pemuda Sport Club”(SH PSC) yang kemudian menjadi Persaudaraan Setia Hati “Pemuda Sport Club” yang berupa sebuah Organisasi. Organisasi ini kemudian disebut Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT pada tahun 1948 dalam kongres pertama di Madiun. Setelah Perang Dunia II, PSHT terus menyebar ke seluruh Indonesia. Seorang tokoh penting di balik semakin populernya PSHT ini adalah Mas Irsjad yang merupakan siswa pertama Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Mas Irsyad ini juga menciptakan 90 Senam Dasar (Basic Exercise), Jurus Belati (Jurus dengan pisau), dan Jurus Toya (Jurus dengan panjang tongkat) yang membedakan dengan Setia Hati di Winongo. Salah satu siswa Mas Irsjad adalah Mas Imam Koesoepangat (1939-1987) pemimpin spiritual dari PSHT yang turut berjasa membesarkan PSHT. Penggantinya, Mas Tarmadji Boedi Harsono(1987-2014), Saat ini dewan pusat organisasi PSHT dipimpin oleh Kolonel Inf (Purn.) Mas Richard Simorangkir sampai pada Parapatan Luhur digelar pada tahun 2014.

Semboyan PSHT

Selama bumi masih berputar dan selama matahari dari timur serta tenggelam di barat SH TERATE tetap jaya selamanya

Falsafah PSHT

Manusia dapat dihancurkan dan manusia dapat dimatikan, akan tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih berpegang teguh pada dirinya atau tetap setia pada hati nuraninya sendiri.

Makna Lambang PSHT

Berikut ini menjelaskan berbagai konsep dan simbol lambang PSHT. Ini mewujudkan bagian dari filosofi Persaudaraan Setia Hati Terate.Segi EmpatSegi Empat panjang dalam lambang SH Terate adalah bermakna Perisai, perisai bisa berarti benteng atau petahanan diri, seorang warga SH Terate harus bisa membentengi diri sendiri dari segala bentuk ancaman jasmani maupun rohani. segi empat ini juga melambangkan 4 mata arah angin dan ditambah 1 sebagai porosnyaWarna HitamWarna Hitam sebagai dasar melambangkan kekal dan abadi. Sesuai semboyannya Selama Matahari bersinar, selama Bumi masih dihuni oleh Manusia, semoga Setia Hati tetap jaya, kekal dan abadi selama-lamanya.PersaudaraanKonsep Persaudaraan ini dapat diterjemahkan sebagai “persaudaraan” kepada semua, mengungkapkan visi dan misi bahwa semua orang adalah saudara dan saudari. “Saudara” diterjemahkan baik sebagai “saudara” dan “adik”: perempuan juga merupakan bagian dari “persaudaraan”. Ini berarti saling menghormati, solidaritas dan kerjasama. Persaudaraan menggantikan budaya,ras,kepercayaan dan afiliasi politik. Persaudaraan kepada semua adalah disamping persaudaraan dengan sesama warga SH Terate adalah juga persaudaraan sesama umat Manusia.Hati BersinarHati bersinar digambarkan dalam lambang, sinar yang berasal dari hati ini adalah representasi simbolis dari konsep persaudaraan: satu mengirimkan pikiran yang baik atau perasaan kepada orang lain. Putih melambangkan cinta dan kebersihan batin. Garis merah di sekitar Hati adalah simbol pertahanan diri: satu bercita-cita untuk persaudaraan dan bahwa yang satu dapat menawarkan orang lain, tapi tidak dengan mengorbankan diri sendiri. Artinya cinta, kasih dan sayang terhadap sesama ada batasnya, cinta,kasih dan sayanag yang tidak terbatas bisa menghancurkan diri sendiri.
SETIA HATI
Setia Hati dapat diterjemahkan sebagai “setia pada hati” nya sendiri. Ini menyiratkan bahwa kita harus selalu jujur ​​pada hati seseorang (perasaan emosional) dalam semua keputusan hidup. Emosi-emosi ini, bagaimanapun, harus selaras dengan kognisi rasional seseorang. Apa yang dalam hati sanubari rasakan dan menjadi pemiikiran harus menjadi dasar bagi perkataan maupun tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Jika dua unsur tidak harmonis, maka setiap keputusan yang diambil salah.TerateTerate (bunga teratai) adalah bunga yang bisa hidup di darat dan di air. Ini melambangkan tekad, ketahanan dan kemampuan untuk beradaptasi. Bunga ini dapat berkembang di segala kondisi. Di udara. Di dalam air. Dalam kondisi kering dan basah. Warga PSHT juga sama harus mampu beradaptasi dan mengatasi keadaan yang sulit. Dan seperti Terate, meskipun pengaruh negatif dari lingkungan, siswa PSHT mempertahankan kebersihan batin nya.Terate dapat hidup dan mekar di lumpur, tapi mempertahankan keindahan dan kemurnian.Garis Merah TegakSebuah garis merah vertikal ditemukan di sisi kiri lambang, diapit pada setiap sisi menjadi garis putih. Ini adalah “jalan yang lurus”, melambangkan pertumbuhan mental dan spiritual siswa dan Warga PSHT yang lurus dan menegakkan kebenaran. Sata pengesahan menjadi Warga Pertama, calon warga membuat sumpah untuk mengikuti jalan ini dan sesuai dengan aturan-aturan tertentu perilaku. Apabila melakukan pelanggaran sumpah ada konsekuensi yang harus diterima.SenjataPada bagian bawah sejumlah senjata kuning berwarna digambarkan pada lambang. Ini melambangkan jalur fisik bahwa seseorang harus mengikuti untuk akhirnya mencapai pertumbuhan rohani dalam keimanan.

Tokoh SH Terate

  1. Ki Ngabehi Soero Dwiryo
  2. Ki Hadjar Hardjo Oetomo
  3. Soeratno Soerengpati
  4. RM. Soetomo Mangkoedjojo
  5. M. Irsyad
  6. RM. Imam Koesoepangat
  7. Tarmadji Boedi Harsono
  8. Kolonel Inf (Purn.) Richard Simorangkir
Berita

Perguruan Silat PSHT Akan Netral dalam Pilpres 2019

Perguruan Silat PSHT Akan Netral dalam Pilpres 2019

Sugeng Harianto – detikNews

Madiun – Perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) akan bersikap netral dalam Pilpres 2019. Mereka tidak akan membawa atribut perguruan untuk kepentingan politik.

“Untuk politik ini memang kita digariskan oleh pendirinya bahwa tidak berpihak pada politik manapun. Kita ajak semua anggota untuk menjaga netralitas organisasi PSHT untuk tidak terlibat dalam urusan politik, baik Pileg maupun Pilpres,” tegas Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Moerjoko kepada wartawan di padepokan jalan Merak Kota Madiun, Rabu (19/9/2018).

Para pesilat kata Moerjoko telah berikrar untuk bersikap netral dan siap membantu dalam mengamankan Pemilu 2019. Ikrar yang dibacakan Ketua Umum PSHT di padepokan Pusat Kota Madiun dihadapan ribuan pesilat diharapkan dapat dipatuhi agar tidak ada perpecahan.

“Kita berharap dengan ikrar ini sehingga kita tidak akan tercerai berai oleh perbedaan pilihan. Semua berhak memilih sesuai keyakinan masing-masing, tapi jangan sampai organisasi PSHT dibawa. Para pendahulu kita telah membuat suatu ikrar juga dan SH Terate jangan dibawa kemana-mana, namun SH Terate ada dimana-mana,” katanya.

Saat disinggung apakah sudah ada pendekatan dari tim salah satu capres menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat), Moerjoko mengaku belum ada satupun yang mendekat. 

“Belum ada, kita memang sangat hati-hati sekali dalam berpolitik. Semua bebas punya pilihan masing-masing dan kita larang untuk mengarahkan ke satu pilihan dan jangan membawa nama perguruan PSHT,” ungkapnya.

Dikatakan Moerjoko jumlah anggota anggota PSHT mencapai 7 juta. Bahkan, saat ini tercatat ada 67 ribu pesilat baru yang akan disahkan pada bulan suro ini. Semua anggota baru diharus berjanji dalam ikrar yang telah ditandatangani oleh ketua Umum dan unsur Forkopimda. 

Dengan pelarangan pesilat untuk tidak menggunakan atribut ke kanca politik kata Moerjoko diharapkan tidak menimbulkan perpecahan antar pesilat pada tahun politik. Ikrar untuk tidak membawa atribut pesilat ke politik lanjut Moerjoko, sudah ada dan dilakukan sejak leluhur pendiri PSHT.

“Pesilat dipastikan akan bersikap netral tidak akan terlibat dalam berpolitik,” tegasnya. BERITA